Skip to main content

“I saw the angel in the marble and carved until I set him free” – Michelangelo

Salah satu kutipan yang paling membekas di benak saya bertahun lamanya adalah ketika pematung dunia michaelangelo ditanya apa yang membuat ia bisa menciptakan pahatan marmer yang luar biasa. Ia menjawab “saya sudah melihat patungnya dan hanya membuang yang bukan bagian dari patung tersebut”.

Di tengah banjir informasi yang membutakan mata dan justru mematikan produktivitas kita, rasanya prinsip ini akan sangat membantu supaya kita punya ketajaman dan efektifitas menentukan apa yang penting dan tidak penting dari kehidupan kita. Itulah mengapa banyak orang yang punya to-do list tapi tidak menyelesaikan apapun.

Deletion, Menghapus untuk tumbuh

Sadar atau tidak kita seringkali terjebak untuk mengejar produktivitas seperti lomba tanpa garis finis. Aplikasi ditambah, setiap metode dicoba, barisan to-do list memanjang—namun rasa lelah dan bersalah tak kunjung reda karena tidak ada pencapaian berarti selain ‘kelihatan sibuk’. 

Pola yang jarang kita sadari adalah: kita mengoptimalkan waktu dengan justru menambah bebannya, bukan mengurangi.  Penyakit yang juga menjangkiti saya bertahun lampau, dengan mudah biang “iya” untuk menyenangkan orang lain atau biar nggak memperpanjang argumen-argumen. Padahal kelelahan sering lahir dari janji yang tidak seharusnya diambil, ganti fokus yang terlalu sering, dan deadline yang dasarnya dari ego agar terlihat penting. Produktivitas di dunia modern memberi ilusi kontrol: semakin banyak alat, semakin terkendali—padahal yang terjadi adalah makin banyak pintu masuk distraksi. Yang perlu dilakukan justru kelihatan kontra-produktif yaitu dengan: membuang, deletion.

“Perfection is not when there is no more to add, but no more to take away” – Antoine de saint exupery. 

Kutipan ini saya ambil dari halaman 67 buku the 4-hour work week tulisan TIm Ferriss yang sampai saat ini masih terus menjadi referensi saya menjalani peran sebagai professional coach dan wirausahawan. Kalau di buku ini kata yang dia pakai bukan deletion tapi elimination.

Saya membuka buku ini kembali justru karena beberapa hari sebelum menerbitkan tulisan ini saya mendapatkan fakta brutal bahwa ada seseorang yang rasanya sudah saya berikan resources yang melimpah namun tidak juga berproses ke arah yang tepat. Terus terang agak sedih melihatnya sih tapi pengalaman itu justru jadi hikmah yang bagus buat saya untuk conserve my energy: menghemat energi dan hanya mengalokasikannya pada hal-hal penting yang relevan dengan goal hidup saya.

Jebakan to-do list

Sebagian besar metode modern untuk meningkatkan produktivitas yang kita kenali hanya memoles gejalanya saja. To-do list cuma jadi tumpukan janji; kalender dan time-blocking sering berubah menjadi kolom berwarna di kalender yang kaku; kesibukan menyusun to-do list cuma memberikan instant dopamin pada aktivitas, bukan pada hasil akhir.

Jadinya kita seolah-olah ngerjain banyak hal padahal tidak kemana-mana.

Fokus pada perilaku “lebih sibuk” melahirkan standar yang mustahil dipenuhi, memicu rasa bersalah yang cenderung permanen. Kelelahan menjalani kesibukan yang tidak ngasih dampak.

Kenapa to-do list seringkali tidak efektif karena masalah produktivitas seringkali berada di level fundamental (boundaries, identitas, insentif), sementara tips-tips manajemen waktu yang populer bermain di level taktis (alat, urutan, trik). 

Kamu bisa saja ngabisin waktu merapikan meja kerja, tetapi jika kebiasaan berkata “iya” pada semua hal tidak berubah, kekacauan akan kembali. Jadi ada mind-shifting yang perlu kamu lakukan adalah dibanding bikin target yang besar, mulailah dari menentukan batas. Anti-Goal Manifesto adalah deklarasi yang tegas tentang hal-hal yang tidak akan Anda lakukan agar ruang untuk yang penting tetap lapang. Indikasi batas ini adalah empat pilar batas yang bisa kamu kenali:

  • Batas non-negosiasi. Tetapkan jam kerja yang tidak bisa diganggu sama sekali, sediakan waktu hening, beranilah bilang “tidak” pada rapat tanpa agenda yang konstruktif dan dokumen satu halaman, serta larangan pesan kerja setelah pukul tertentu.
  • Jeda yang terencana. Buat daftar “berhenti” berdasarkan waktu, misalnya dalam seminggu kamu stop mengerjakan apapun selama 1 hari. Atau dalam sebuah proyek kamu ngambil jeda pada progress tertentu. Selama masa jeda ini yang kamu lakukan adalah mengamati adakah yang bisa dihapus yang meskpun kecil namun berdampak?.
  • Filter keputusan Secara ketat. Terapkan aturan yang ketat: “Tidak ada proyek baru bila proyek yang sedang berjalan berjumlah lebih dari 3 proyek”, “Jika outputnya tak berdampak dalam 14 hari, tunda atau delegasikan”, “Jika bukan prioritas inti atasan langsung, tolak dengan cara yang sopan.”
  • Conserve your energy. Proteksi kualitas tidur kamu, aktivitas fisik, nutrisi, dan waktu yang dialokasikan untuk fokus. Karena energi adalah mata uang yang harus kamu jaga dengan ketat. Tanpa energi yang mencukupi maka semua prioritas tinggal retorika.

Kembali lagi ke kutipan diawal, seorang pematung tidak “menambah” bagian dari patung tersebut; ia justru membuang bagian yang bukan patung. Ruang kosong dalam kehidupan kita adalah fitur yang penting dan bukan sebuah kesia-siaan. Prinsipnya dalam bekerja apa yang kita tolak sama pentingnya dengan yang kita kejar. Maka dengan memahami Anti-goal manifesto ini, sistem kehidupan kita menjadi stabil karena sumber entropi—gangguan, permintaan tiba-tiba, dan ego kita—disingkirkan. 

Anti-goal manifesto tuh bukan berarti kita egois dan mementingkan diri sendiri tetapi ada dimensi identitas yang perlu diprioritaskan disini.  Setiap statement atau keputusan anti-goal yang kamu tetapkan adalah sebuah pernyataan kepada kehidupan bahwa: “Hidup saya penting dan Saya bukan orang yang gampangan…”. 

Nah, menariknya ketika identitas kamu berubah, perilakumu akan berubah juga karena ia adalah konsekuensi yang datang secara alami, bukan paksaan. Sekali lagi, Anti-goal bukan pesimisme; ia adalah disiplin yang dirancang dengan ketat untuk menciptakan pagar agar pencapaian kita bisa semakin tumbuh tanpa kelelahan.

Jika Anda membutuhkan pendampingan Coaching silakan kontak WA: 085242273269 atau email ke: omjhody@gmail.com | Jangan lupa Join LEADERS CIRCLE, masukkan nama dan email Anda di bagian footer halaman ini.